Sungguh, tak akan pernah
lagi ada sabda embun dalam sepucuk do’aku di setiap subuh yang datang tanpa
gaduh. Embun yang pernah kucintai, dan mencintaiku, namun tak memilihku menjadi
teman pagi-nya di penutup cerita. Embun yang pernah senantiasa kudamba makna
hadirnya tatkala malam menjelma pagi, namun tak lagi menetapkan pandang padaku.
Semua telah usai. Bak lakon satir di atas panggung pertunjukan, layar-layar
telahpun tergulung, dan penonton satu-persatu melangkah gontai meninggalkan
bangku-bangku kosong, menyisakan bungkus-bungkus makanan, puntung-puntung
rokok, pun botol-botol minuman di kolong-kolongnya yang renta. Kaki-kaki bangku
yang mulai menua, menyiratkan nestapa sepanjang usia.
Tak akan ada lagi jendela-jendela
yang terbuka pada fajar pukul lima, atau tadahan sepasang tangan yang menanti
tetes embun jatuh ke riba, ketika surya mulai berkunjung. Pada jejak yang
tertinggal di celah temaram purnama, aku telah mengucapkan salam perpisahan
dengan retakan hati yang sebisa mungkin tak kutampakkan. Pada akhirnya,
kukembalikan semuanya pada sang waktu. Waktu yang akan mengajarkanku memaafkan
segalanya. Memaafkan kealpaan yang kerap bertandang tanpa diundang, juga
memaafkan perasaanku. Belajar berjalan kembali, tanpa tertatih. Belajar
tersenyum kembali, dan tak menoleh pada langkah yang tertinggal di belakang
punggungku.
Kepada lelaki dengan berlarik janji dalam kalungan puisi,
Aku berusaha tak
mengingkari apa-apa, meski terlalu dalam gurat luka yang kau tinggalkan. Sakit
sekali rasanya, Damar. Hingga aku tak bisa untuk tidak meringis setiap kali
ingatan mengantarkanku padamu, ataupun ketika aku mendengar seseorang menyebut
namamu. Mengapa akhir seperti ini yang harus kita jalani?
Kau pernah jadi yang
terbaik! Tak akan kuingkari kenyataan itu, meski kadang membuatku tertampar.
Aku pernah memaknai kata bahagia ketika bersamamu, meski sesaat. Pernah menjadi
insan yang paling bahagia di muka bumi karena ketika itu kau selalu ada untuk
menggenggam jemari kecilku. Kau yang selalu menyediakan dada bidangmu untukku
bersandar, mendekapku hangat di antara airmata yang mengurai kala lara itu
datang.
Untuk sesaat, kau pernah
menghadirkan warna hijau terindah dalam kanvas kehidupanku yang hanya mengenal
warna kelabu. Suatu masa yang tak akan berulang, pun tak kuharapkan berulang.
Aku tak ingin mengingkari masa lalu, pun rona-rona bahagia yang mengikat kita
dalam kenangan yang tercipta. Aku tak ingin melenyapkanmu dari ingatanku,
seperih apapun bekas yang tertinggal, sebab itu sama artinya dengan mengingkari
keberadaan masa laluku. Meski masa-masa itu adalah hal yang seandainya bisa,
ingin kusingkirkan selamanya. Bukan tak rela, melainkan aku tak ingin tambah
menyakiti hati-hati yang lain jika masih saja hidup dalam bayanganmu. Engkau
dan aku adalah kisah masa lalu, sedang engkau bersamanya adalah kisah masa
depan. Maka seyogyanya aku mengalah, lebih tepatnya mengalahkan ego-ku, dengan
menutup rapat-rapat tentangmu.
Kau memang bukan yang
pertama, namun kuharap yang terakhir. Aku teramat lelah, dan tungkaiku seolah
tak kuasa lagi mendaki ke puncak. Aku ingin berhenti sejenak dari perjalanan
membuang luka hati. Tak untuk menangis, tapi beristirahat dari rupa-rupa
penat.Aku lelah menangis, meski kuakui aku merasa sedikit lebih lega setelah
menangis. Tapi tangisan bukanlah solusi terbaik. Dan kenyataan seolah
menonjokku dengan tanya yang senantiasa berulang: apa yang sebenarnya
kutangisi? Aku tak kehilangan apa-apa. Bukankah aku mengembalikanmu pada tempat
dimana semestinya engkau berada?
Kepada lelaki dengan taburan kata berpagar madu cinta,
Aku berbohong jika
kukatakan aku baik-baik saja. Tak ada yang baik-baik saja, ketika seseorang
yang padanya pernah kita sematkan segenap kepercayaan, segenap hati dan
harapan, tanpa alasan jelas meminta untuk mengakhiri semuanya. Aku sempat
kalap. Kuletakkan kenyataan bahwa kau telah bertunangan dengan seorang wanita
teman SMA-mu dulu, pada sudut paling pojok dalam logika berpikirku. Itu bukan
kau: satu-satunya hal yang kuharap adalah nyata. Damar Satria Pambudi-ku
bukanlah sosok lelaki yang menyukai wanita. Tapi kenyataan memang sedang tak
ingin berdamai dengan inginku. Itu kau. Cincin yang tersemat di jarimu adalah
bukti paling benar.
Tapi aku tak marah,
bukan? Bukankah aku tertawa mendengar penuturanmu? Antara miris dan tulus,
kukira tak jauh berbeda, terlebih ketika aku berdiri membelakangimu, tak ingin
airmata yang merebak jatuh menuruni pipiku jadi santapan iba hatimu. Tapi
intinya: aku tertawa. Entah apa yang kutertawakan. Mungkin itulah satu-satunya
caraku melepas kecewa dan sakit yang datang pada waktu bersamaan.
Di depanmu aku memainkan
peran dengan sangat baik. Aku begitu piawai menyembunyikan perasaan, hingga
bisa-bisanya menghadiahkan engkau sebuah senyuman ketika kata maaf itu terlontar
dari bibirmu. Bibir manis yang dulu tak bosan untuk kukecup. Satu saja
pertanyaanku, Damar, mengapa sekarang? Mengapa kau pinta perpisahan ketika
hatiku seluruhnya terlanjur kuserahkan padamu? Bukankah sejak awal telah
kukatakan agar engkau memikirkan sematang mungkin sebelum menjalin hubungan
denganku? Dan, ingat jawabanmu waktu itu? Kau mengatakan bahwa aku adalah yang
terpilih, dan selamanya tempatku adalah di sisimu.
Inikah sebagian dari
janjimu untuk tak pernah menyakitiku?
Jika ini yang kau
maksudkan untuk tidak menyakitiku, maka sepertinya aku harus membuat
pemberitahuan sebesar-besarnya padamu: aku lebih rela kau memutuskanku, lalu
menjalin hubungan dengan pria lain ketimbang kau malah bertunangan dengan teman
SMA-mu yang tak lain adalah sepupuku sendiri, Damar!
Kepada lelaki dengan mahkota dusta bertatah airmata,
Tapi itulah kehidupan.
Senantiasa berputar. Pada tawa kita, ada tangis-tangis sosok lain yang tak
terlihat. Diatur-Nya pertemuan, juga dirancang-Nya perpisahan. Siapalah
kita dalam samudera keluasan jagad Sang Pemilik Hidup? Tak lebih dari
sebutir debu. Pada akhirnya kita akan tetap sendirian. Lalu, apa yang perlu
ditakutkan dari sebuah kesendirian?
Tak akan lagi ada embun
dan senja, Damar. Senja tetaplah senja. Begitupun embun. Masing-masing mereka
adalah dua hal yang sejak awal telah kita yakini tak akan dapat
dipersatukan. Hal yang pernah coba kita dustakan dahulu. Mencoba membangun
persisian untuknya, meski nyatanya, hasilnya sia-sia.
Aku kehilanganmu, itu
jelas. Kau yang pergi dengan membawa seluruh hatiku, menyisakan perih yang tak
kuketahui kapan sembuhnya. Namun, inilah kenyataan sesungguhnya. Kisah kita
bukanlah berakhir indah umpama dongeng pengantar tidur tentang Putri
Jelita dan Pangeran Tampan-nya. Inilah akhir yang nyata untuk cinta yang
tak sempurna, seperti ujarmu.
Kepada lelaki yang pernah kucinta, namun tak ingin lagi kumiliki,
Kembalilah menjadi
embun, tetap berkilau, walau kadang debu-debu jalanan mencoba menutup
beningnya, walau mentari tak henti memadamkan pijarnya. Padamu, kuucapkan
selamat tinggal yang dulu tak pernah terpikir akan kuucapkan.. Padamu juga,
kutitip sebuah pesan, meski aku tahu tanpa aku harus memintanya padamu pun
engkau akan melakukannya, tolong jaga hati seorang hawa yang kini
mendampingi-mu, mengisi hari-hari bahagia bersama-mu. Jangan pernah
menyakitinya, seperti engkau menyakitiku. Jika bersamaku kakimu melangkah di
jalan salah, maka kuharap bersamanya dapat membawamu ke jalan yang sebenarnya.
Selamat tinggal, Damar…
Radithya A Lesmana
NB: Maksud dari versi B ini adalah versi yaoi (male x male). Tulisan ini pernah Puan publish di blog salah satu sahabat Puan (Dunia Kata Nayaka).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar