NB: Gambar diambil dari Google
Siang tadi kita telah memutuskan satu rencana, setelah bertukar kata dan berbagi sapa di sela jam istirahat seperti biasa. Sore nanti, selepas tubuh kita memiliki jeda dan terlepas dari rutinitas kerja, kita akan bertemu di taman kota. Tepatnya, di bangku kayu sebelah utara yang mulai mengelupas catnya dimakan usia. Kemudian, kau dan aku akan melanjutkan perjalanan menuju rumah kecil kita bersama-sama. Kegiatan akhir pekan yang sudah beberapa waktu menghilang dari agenda kita.
Maka di
sinilah aku pada akhirnya menunggu. Di bangku tua taman kota yang membisu, berteman
tiang lampu jalan yang berdiri kaku tertutup butiran-butiran salju yang masih
tebal menjelang penghujung musim dingin yang sebentar lagi akan segera berlalu.
Kulirik jam tangan mungil yang menghiasi tangan kananku. Masih ada lima belas
menit menuju pukul lima, tapi musim dingin membuat malam bertamu lebih awal
daripada hari-hari biasa. Bias yang terpancar dari cahaya lampu jalan di ujung
bangku taman yang kududuki membuat larik gerimis yang bertandang terlihat
seperti jarum air yang berpacu mencari jalan menuju nadi tanah yang membeku.
Aku
mengulum senyum memerhatikan raut-raut wajah riang yang mendominasi beberapa
anak kecil berambut pirang dan bermata biru yang dengan gembira bermain ice skeating di atas danau di sebelah
kiriku yang permukaannya sudah keras membeku. Kerinduan akan kampung halaman
sesaat menyeruak menyapa ruang benak, sebelum akhirnya aku mengedarkan
pandangan berkeliling, merekam setiap jengkal pemandangan yang mampu disimpan
oleh memori otakku. Salju-salju yang bergelayut di antara ranting-ranting pohon
yang telah lama kehilangan daun terlihat begitu indah. Meskipun begitu,
pohon-pohon sejenis cemara yang tetap gagah dengan daunnya yang hijau, terlihat
tak kalah indah.
Pandanganku
lalu tertuju lurus pada deretan toko-toko yang berdiri di seberang jalan,
beberapa meter dari bangku yang kududuki. Dari balik kaca tembus pandang di
bagian depan, tampilan dalam ruangan toko yang didominasi warna merah muda
berpadu dengan merah terlihat nyata. Balon-balon berbentuk hati dalam warna
senada, dengan ukuran beraneka, menghiasi setiap sudut toko yang menyediakan
pernak-pernik menyambut Valentine. Waktu terasa berlalu sangat cepat. Rasanya
baru kemarin aku melihat toko-toko itu dipenuhi pernak-pernik Natal: lampu,
bintang-bintang, pohon cemara, kaus kaki Santa, dan lain sebagainya.
Sesungguhnya hatiku cukup tergoda untuk mampir ke sana, sebelum toko-toko itu
tutup kurang dari sejam lagi. Barangkali saja, aku akan menemukan sesuatu yang
unik sebagai kado untukmu di hari kasih sayang itu nantinya. Akan tetapi, aku
mengurungkan niat. Akan jauh lebih baik jika aku mencari tahu dulu apa yang
paling kau inginkan, daripada aku nekat
pergi ke sana tanpa persiapan.
Kuhembuskan
napasku yang berasap, berusaha melawan hawa dingin yang sepertinya tak mampu
dihalau oleh sarung tangan kulitku. Seperti ada ribuan semut merah dengan
gigitan yang menyakitkan yang mencumbu setiap jengkal tubuhku. Padahal aku
sudah mengikuti aturan berpakaian saat musim dingin: sepatu bot, kaus kaki
tebal, pakaian tebal berbahan wol, celana panjang dua lapis, jaket tahan air,
sarung tangan, syal, bahkan penutup kepala. Apalagi yang kurang? Pipiku bahkan terasa
perih terkena tamparan angin. Ugh, musim dingin yang menyebalkan.
Tanganku
yang menggenggam pegangan payung hitam yang melindungi kepalaku dari terjangan
gerimis tampak gemetar. Seakan tak mampu lebih lama lagi untuk menahan gerakan
payungku yang sedari tadi bergoyang dipermainkan angin petang yang mengawal
anak-anak hujan. Aish, sampai kapan aku akan duduk menunggu sambil
berkomat-kamit juga mengumpat seperti orang bodoh di sini?
Tingkahku
pasti terlihat memprihatinkan. Itu pun jika ada di antara orang-orang yang
berlalu-lalang membelah jalanan di depanku ini menyempatkan waktu untuk
memperhatikan. Tapi kurasa, orang-orang itu – bagian dari manusia yang gila
kerja itu – tidak akan membuang waktu percuma untuk memperhatikan seorang gadis
yang tubuhnya nyaris tenggelam dalam balutan mantel serta payung hitam yang
menudungi kepalanya. Aku berusaha berdamai dengan gagang payungku. Membisikinya
agar sedikit bersahabat, lalu menegakkan punggung dan mencari sosokmu di antara
kerumunan orang-orang yang berjalan cepat di atas tanah yang permukaannya tertutupi
salju tebal. Dari kejauhan, manik mataku menangkap siluet tubuhmu. Aku sontak
berdiri. Memindahkan pegangan payung ke tangan kiri, lalu melambai-lambai ke
arahmu dengan tangan kanan, berharap kau segera melihatku. Ayolah, lihat aku.
Jangan sampai aku menjadi patung karena tak kuat lagi melawan hawa dingin yang
dengan nakal menjamah sumsum tulang.
Dari
tempatku berdiri, aku bisa melihat dengan jelas sosokmu yang terlihat
celingukan di antara kelebatan orang-orang, lalu balas melambai ketika manik
matamu yang berwarna cokelat tua mengunci tatapanku. Kau berjalan cepat, dengan
keluwesan yang tak jemu membuatku kagum, menyelip di antara lalu-lalang lelaki
dan perempuan bule yang postur tubuhnya jauh lebih besar darimu. Dari aku juga.
Dari kita berdua tepatnya. Meski gigiku bergemerutuk dan lidahku nyaris
tergigit karena bertarung dengan hawa dingin, tapi aku masih sempatnya
tersenyum kecil melihat butiran salju menghiasi topi rajut yang bertengger
manis di kepalamu. Hadiah Natal dariku beberapa waktu yang lalu.
Tapi
kemudian senyumku sirna, tak ubah setetes embun yang menghilang dikecup
mentari. Mataku memicing, memerhatikanmu yang masih cukup jauh dariku. Dan
kenyataan membuatku tercekat. Senyummu, sejak kapankah senyum itu tak lagi
memberikan semacam magnet untuk membuat orang-orang di sekitarmu turut
tersenyum? Apa istilahnya? Senyum yang tak sampai ke wajah? Kau memang
tersenyum, tapi sorot matamu tak mampu menyembunyikan kesedihan. Kenapa baru
sekarang aku menyadarinya? Mungkinkah aku bisa mengkambinghitamkan pekerjaan
sebagai alasan mengapa hal sepenting itu terlewat dari pengamatanku? Aku yang
mengaku sebagai sosok yang paling mengenalmu!
Siapa
yang merenggut senyum teduh dari wajahmu? Masihkah lelaki senja yang sama, yang
bahkan namanya tak lagi kita sebut dalam bincang-bincang kita. Seperti ada satu
peraturan tak tertulis di antara kita berdua, bahwa namanya adalah hal
terlarang untuk disebutkan dalam jalan percakapan. Pernah hadir, lalu pergi
menyisakan kenang yang tak layak untuk diperbincangkan. Sosok yang membuatmu
menjadi perempuan yang senantiasa mengulum titik-titik hujan di antara larik
sajak yang kau wartakan.
“Maafkan
aku membuatmu menunggu lama, Sayang. Ada sedikit pekerjaan tambahan yang harus
kulakukan. Oh, ya ampuuun…, kau sampai menggigil kedinginan. Ayo kita pulang
sekarang!”
Aku
masih berdiri kaku, seolah kakiku terpasung. Bibirku mengatup rapat, merutuk
dalam hati akan pertahanan tubuhku yang menurutku membuatku terlihat
menyedihkan. Tapi di satu sisi aku ingin sekali menyeretmu ke depan cermin,
untuk memperlihatkan padamu bahwa kau tak kalah mengenaskannya daripada aku.
Ha!
Lihatlah,
bibirmu bahkan nyaris menjadi biru, dan mantel bulu yang seharusnya membentengi
tubuhmu dari hawa dingin itu kini dipenuhi butiran salju.
“Ay?”
aku mengerjap saat melihat kau mengibas-ngibas sebelah tanganmu yang ditutupi
sarung tangan ke depan mukaku. Seperti sebuah mantera pelepas kutukan di film
Harry Potter yang kutonton, aku mulai bergerak menghampirimu. Sedikit berjinjit
untuk mengibas remah-remah salju dari pundak mantelmu, juga dari topi rajutmu.
Kugenggam tangan kirimu, menyatukan jemari kita yang terbungkus sarung tangan,
seolah menyalurkan kehangatan yang tersisa, meski sebenarnya tindakanku itu
kuartikan sebagai penguat semangat. Isyarat tersamar bahwa aku ingin
mengatakan: aku akan selalu ada di sampingmu, menemanimu, tak hanya saat kau
tertawa, tapi juga saat kau menangis. Bukankah bersamamu, terkadang aku tak
butuh menyuarakan apa yang ada di benakku, karena kau bisa dengan mudah
mengartikan bahasa diamku, sebagaimana aku mengartikan diammu.
“Aku
ingin segera sampai di rumah dan menikmati secangkir cokelat panas. Kudengar
akan ada badai salju malam ini. Ayo,
kita bergegas! Dan, Nona Berpipi Tembam, jangan lupa, hari ini jatahmu
menyediakan makan malam. Aku ingin Sup Jagung Muda. Uwooo, membayangkannya saja
membuat liurku nyaris menetes,” aku akhirnya bersuara, diakhiri dengan cengiran
yang selalu sukses membuatmu kesal.
Plak!
Tanganmu
mendarat manis di keningku. Membuatku mendelik sewot.
“Yah!
Tidak bisakah kau tidak mengorbankan jidatku sebagai sasaran tangan nakalmu
itu? Bagaimana seandainya jidatku semakin lebar? Bagaimana jika tidak ada satu
pun pria bule yang akan tertarik padaku karena jidatku yang lebar?” aku menepis
tanganmu sambil mengurut keningku. Dan aku yakin kau sedang memutar bola matamu
saat ini.
“Jangan
terlalu berlebihan begitu. Penyanyi sekaligus aktor muda Korea Selatan yang
sangat kau idolakan itu jidatnya juga lebar. Tapi katamu dia tetap menjadi
idola di antara para wanita. Huh, sepertinya musim dingin turut membekukan
otakmu,” kau dengan entengnya menjawab begitu. Aku mencebil, lalu menarik
tanganmu. Tak ingin lebih lama lagi menahan serangan hawa dingin dibarengi
hujan yang mulai deras. Dengan sedikit manja, kurebahkan kepalaku di pundakmu,
sambil tetap mengayun langkah menelusuri jalan. Aku bisa mendengar kau terkekeh
pelan menyaksikan kemanjaanku yang jarang kutunjukkan. Bibirku sendiri
tertarik, membentuk selengkung senyuman. Aku akan mengembalikan senyummu,
Kakakku, Sahabatku, Separuh Jiwaku. Senyum teduhmu yang selalu kupuja sejak
dulu. Aku berjanji akan mengembalikan senyum itu padamu, suatu hari nanti.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar