Selasa, 18 November 2014

A Winter's Promise

NB: Gambar diambil dari Google


Siang tadi kita telah memutuskan satu rencana, setelah bertukar kata dan berbagi sapa di sela jam istirahat seperti biasa. Sore nanti, selepas tubuh kita memiliki jeda dan terlepas dari rutinitas kerja, kita akan bertemu di taman kota. Tepatnya, di bangku kayu sebelah utara yang mulai mengelupas catnya dimakan usia. Kemudian, kau dan aku akan melanjutkan perjalanan menuju rumah kecil kita bersama-sama. Kegiatan akhir pekan yang sudah beberapa waktu menghilang dari agenda kita.

Maka di sinilah aku pada akhirnya menunggu. Di bangku tua taman kota yang membisu, berteman tiang lampu jalan yang berdiri kaku tertutup butiran-butiran salju yang masih tebal menjelang penghujung musim dingin yang sebentar lagi akan segera berlalu. Kulirik jam tangan mungil yang menghiasi tangan kananku. Masih ada lima belas menit menuju pukul lima, tapi musim dingin membuat malam bertamu lebih awal daripada hari-hari biasa. Bias yang terpancar dari cahaya lampu jalan di ujung bangku taman yang kududuki membuat larik gerimis yang bertandang terlihat seperti jarum air yang berpacu mencari jalan menuju nadi tanah yang membeku.

Aku mengulum senyum memerhatikan raut-raut wajah riang yang mendominasi beberapa anak kecil berambut pirang dan bermata biru yang dengan gembira bermain ice skeating di atas danau di sebelah kiriku yang permukaannya sudah keras membeku. Kerinduan akan kampung halaman sesaat menyeruak menyapa ruang benak, sebelum akhirnya aku mengedarkan pandangan berkeliling, merekam setiap jengkal pemandangan yang mampu disimpan oleh memori otakku. Salju-salju yang bergelayut di antara ranting-ranting pohon yang telah lama kehilangan daun terlihat begitu indah. Meskipun begitu, pohon-pohon sejenis cemara yang tetap gagah dengan daunnya yang hijau, terlihat tak kalah indah.

Pandanganku lalu tertuju lurus pada deretan toko-toko yang berdiri di seberang jalan, beberapa meter dari bangku yang kududuki. Dari balik kaca tembus pandang di bagian depan, tampilan dalam ruangan toko yang didominasi warna merah muda berpadu dengan merah terlihat nyata. Balon-balon berbentuk hati dalam warna senada, dengan ukuran beraneka, menghiasi setiap sudut toko yang menyediakan pernak-pernik menyambut Valentine. Waktu terasa berlalu sangat cepat. Rasanya baru kemarin aku melihat toko-toko itu dipenuhi pernak-pernik Natal: lampu, bintang-bintang, pohon cemara, kaus kaki Santa, dan lain sebagainya. Sesungguhnya hatiku cukup tergoda untuk mampir ke sana, sebelum toko-toko itu tutup kurang dari sejam lagi. Barangkali saja, aku akan menemukan sesuatu yang unik sebagai kado untukmu di hari kasih sayang itu nantinya. Akan tetapi, aku mengurungkan niat. Akan jauh lebih baik jika aku mencari tahu dulu apa yang paling kau inginkan, daripada aku nekat  pergi ke sana tanpa persiapan.

Kuhembuskan napasku yang berasap, berusaha melawan hawa dingin yang sepertinya tak mampu dihalau oleh sarung tangan kulitku. Seperti ada ribuan semut merah dengan gigitan yang menyakitkan yang mencumbu setiap jengkal tubuhku. Padahal aku sudah mengikuti aturan berpakaian saat musim dingin: sepatu bot, kaus kaki tebal, pakaian tebal berbahan wol, celana panjang dua lapis, jaket tahan air, sarung tangan, syal, bahkan penutup kepala. Apalagi yang kurang? Pipiku bahkan terasa perih terkena tamparan angin. Ugh, musim dingin yang menyebalkan.

Tanganku yang menggenggam pegangan payung hitam yang melindungi kepalaku dari terjangan gerimis tampak gemetar. Seakan tak mampu lebih lama lagi untuk menahan gerakan payungku yang sedari tadi bergoyang dipermainkan angin petang yang mengawal anak-anak hujan. Aish, sampai kapan aku akan duduk menunggu sambil berkomat-kamit juga mengumpat seperti orang bodoh di sini?

Tingkahku pasti terlihat memprihatinkan. Itu pun jika ada di antara orang-orang yang berlalu-lalang membelah jalanan di depanku ini menyempatkan waktu untuk memperhatikan. Tapi kurasa, orang-orang itu – bagian dari manusia yang gila kerja itu – tidak akan membuang waktu percuma untuk memperhatikan seorang gadis yang tubuhnya nyaris tenggelam dalam balutan mantel serta payung hitam yang menudungi kepalanya. Aku berusaha berdamai dengan gagang payungku. Membisikinya agar sedikit bersahabat, lalu menegakkan punggung dan mencari sosokmu di antara kerumunan orang-orang yang berjalan cepat di atas tanah yang permukaannya tertutupi salju tebal. Dari kejauhan, manik mataku menangkap siluet tubuhmu. Aku sontak berdiri. Memindahkan pegangan payung ke tangan kiri, lalu melambai-lambai ke arahmu dengan tangan kanan, berharap kau segera melihatku. Ayolah, lihat aku. Jangan sampai aku menjadi patung karena tak kuat lagi melawan hawa dingin yang dengan nakal menjamah sumsum tulang.

Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat dengan jelas sosokmu yang terlihat celingukan di antara kelebatan orang-orang, lalu balas melambai ketika manik matamu yang berwarna cokelat tua mengunci tatapanku. Kau berjalan cepat, dengan keluwesan yang tak jemu membuatku kagum, menyelip di antara lalu-lalang lelaki dan perempuan bule yang postur tubuhnya jauh lebih besar darimu. Dari aku juga. Dari kita berdua tepatnya. Meski gigiku bergemerutuk dan lidahku nyaris tergigit karena bertarung dengan hawa dingin, tapi aku masih sempatnya tersenyum kecil melihat butiran salju menghiasi topi rajut yang bertengger manis di kepalamu. Hadiah Natal dariku beberapa waktu yang lalu.

     Tapi kemudian senyumku sirna, tak ubah setetes embun yang menghilang dikecup mentari. Mataku memicing, memerhatikanmu yang masih cukup jauh dariku. Dan kenyataan membuatku tercekat. Senyummu, sejak kapankah senyum itu tak lagi memberikan semacam magnet untuk membuat orang-orang di sekitarmu turut tersenyum? Apa istilahnya? Senyum yang tak sampai ke wajah? Kau memang tersenyum, tapi sorot matamu tak mampu menyembunyikan kesedihan. Kenapa baru sekarang aku menyadarinya? Mungkinkah aku bisa mengkambinghitamkan pekerjaan sebagai alasan mengapa hal sepenting itu terlewat dari pengamatanku? Aku yang mengaku sebagai sosok yang paling mengenalmu!

     Siapa yang merenggut senyum teduh dari wajahmu? Masihkah lelaki senja yang sama, yang bahkan namanya tak lagi kita sebut dalam bincang-bincang kita. Seperti ada satu peraturan tak tertulis di antara kita berdua, bahwa namanya adalah hal terlarang untuk disebutkan dalam jalan percakapan. Pernah hadir, lalu pergi menyisakan kenang yang tak layak untuk diperbincangkan. Sosok yang membuatmu menjadi perempuan yang senantiasa mengulum titik-titik hujan di antara larik sajak yang kau wartakan.

“Maafkan aku membuatmu menunggu lama, Sayang. Ada sedikit pekerjaan tambahan yang harus kulakukan. Oh, ya ampuuun…, kau sampai menggigil kedinginan. Ayo kita pulang sekarang!”

Aku masih berdiri kaku, seolah kakiku terpasung. Bibirku mengatup rapat, merutuk dalam hati akan pertahanan tubuhku yang menurutku membuatku terlihat menyedihkan. Tapi di satu sisi aku ingin sekali menyeretmu ke depan cermin, untuk memperlihatkan padamu bahwa kau tak kalah mengenaskannya daripada aku. Ha!

Lihatlah, bibirmu bahkan nyaris menjadi biru, dan mantel bulu yang seharusnya membentengi tubuhmu dari hawa dingin itu kini dipenuhi butiran salju.

“Ay?” aku mengerjap saat melihat kau mengibas-ngibas sebelah tanganmu yang ditutupi sarung tangan ke depan mukaku. Seperti sebuah mantera pelepas kutukan di film Harry Potter yang kutonton, aku mulai bergerak menghampirimu. Sedikit berjinjit untuk mengibas remah-remah salju dari pundak mantelmu, juga dari topi rajutmu. Kugenggam tangan kirimu, menyatukan jemari kita yang terbungkus sarung tangan, seolah menyalurkan kehangatan yang tersisa, meski sebenarnya tindakanku itu kuartikan sebagai penguat semangat. Isyarat tersamar bahwa aku ingin mengatakan: aku akan selalu ada di sampingmu, menemanimu, tak hanya saat kau tertawa, tapi juga saat kau menangis. Bukankah bersamamu, terkadang aku tak butuh menyuarakan apa yang ada di benakku, karena kau bisa dengan mudah mengartikan bahasa diamku, sebagaimana aku mengartikan diammu.

“Aku ingin segera sampai di rumah dan menikmati secangkir cokelat panas. Kudengar akan ada badai salju malam ini. Ayo,  kita bergegas! Dan, Nona Berpipi Tembam, jangan lupa, hari ini jatahmu menyediakan makan malam. Aku ingin Sup Jagung Muda. Uwooo, membayangkannya saja membuat liurku nyaris menetes,” aku akhirnya bersuara, diakhiri dengan cengiran yang selalu sukses membuatmu kesal.

Plak!
  
Tanganmu mendarat manis di keningku. Membuatku mendelik sewot.

“Yah! Tidak bisakah kau tidak mengorbankan jidatku sebagai sasaran tangan nakalmu itu? Bagaimana seandainya jidatku semakin lebar? Bagaimana jika tidak ada satu pun pria bule yang akan tertarik padaku karena jidatku yang lebar?” aku menepis tanganmu sambil mengurut keningku. Dan aku yakin kau sedang memutar bola matamu saat ini.

“Jangan terlalu berlebihan begitu. Penyanyi sekaligus aktor muda Korea Selatan yang sangat kau idolakan itu jidatnya juga lebar. Tapi katamu dia tetap menjadi idola di antara para wanita. Huh, sepertinya musim dingin turut membekukan otakmu,” kau dengan entengnya menjawab begitu. Aku mencebil, lalu menarik tanganmu. Tak ingin lebih lama lagi menahan serangan hawa dingin dibarengi hujan yang mulai deras. Dengan sedikit manja, kurebahkan kepalaku di pundakmu, sambil tetap mengayun langkah menelusuri jalan. Aku bisa mendengar kau terkekeh pelan menyaksikan kemanjaanku yang jarang kutunjukkan. Bibirku sendiri tertarik, membentuk selengkung senyuman. Aku akan mengembalikan senyummu, Kakakku, Sahabatku, Separuh Jiwaku. Senyum teduhmu yang selalu kupuja sejak dulu. Aku berjanji akan mengembalikan senyum itu padamu, suatu hari nanti.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar