NB: Gambar diambil dari Google
Aku dan Papih, kami seperti layaknya sepasang sahabat, bukan suami istri. Aku bisa seenak jidatku bercerita tentang apa saja padanya, begitu juga sebaliknya. Papih, tentu saja dari segi usia lebih dewasa dari pada aku yang kekanak-kanakan dan manja. Papih memiliki kesabaran yang luar biasa, kloplah dengan aku yang kalau sedang kumat manjanya justru sengaja cari-cari alasan untuk bertengkar. Hehehe. Rumah tangga kami, bisa dikatakan jauh dari kata rukun. Tentu saja, akukan selalu marah-marah tak jelas hanya untuk menarik perhatian Papih. Hahaha. Untunglah dia seorang lelaki penyabar, kalau tidak, mungkin sudah lama aku jadi janda *plaaakkk…
Meski sudah menikah, kami masih seperti pasangan yang suka pacaran. Terkadang, aku mengacuhkan Papih seharian, dan Papih juga mendiamkanku. Mirip pasangan yang lagi marahan. Kadang, kalau manjaku kumat, aku akan mengajak Papih ke tempat favorit kami berdua: Bakso Kondang. Yah, hubungan kami berdua memang jauh dari campur tangan materi, errr, maksudku, kami berdua bukan sosok yang suka belanja, bukan sosok yang suka jalan-jalan tanpa juntrungan, jadi, waktu kami lebih banyak dihabiskan di rumah, terlebih setelah memiliki anak. Kata teman-temanku, kami pasangan serasi. Aha, andai mereka tahu, kami sangat jauh dari kata itu…
Topik yang paling sering kami perbincangkan adalah sang mantan, wkwkwwk. Sekadar untuk ejek-ejekan, aku jelas kalah telak dibandingkan Papih soal pacaran. Diakan udah kenyang makan asam garam dunia percintaan, halah.
Bicara soal sang mantan, aku ingin bercerita tentang sosok lelaki yang tak pernah menjadi pacarku, tapi aku tahu dia mencintaiku. Bukannya ge-er loh, tapi begitulah kenyataannya. Namanya Syapril. Marganya aku lupa, soalnya itu sudah lama sekali, ketika aku berada di penghujung kelas 1 SMP. Jadi ceritanya, di SMP, aku punya sahabat yang bernama Ria, kami duduk samping-sampingan. Nah, Ria ini memiliki tetangga yang punya dua anak, Syapril dan kakaknya, Nanda. Jujur saja, aku sudah lupa bagaimana tampangnya Syapril itu, tapi kenangan dengannya tetap kuingat dengan baik. Oh iya, Syapril ini berbeda keyakinan denganku, tapi bukan itu alasan kenapa aku tidak menerimanya jadi pacarku.
Pada suatu hari, ketika 5 menit lagi bel akan berbunyi, Syapril datang menemuiku. Seenak dengkulnya, tuh anak minta pohon kaktus padaku. Pakai acara merengek pula. Aku kesal setengah mati, walaupun jarak rumahku dengan sekolah dekat, dan aku bisa pulang jalan kaki, tapi tetap saja, jam pertama ada ulangan harian Matematika. Mana sudi aku capek-capek bolak-balik demi dia yang bukan siapa-siapaku.
“Please, Aya. Kata Ria, kamu punya pohon kaktus,” rengeknya. Emang. Aku menanam pohon kaktus di depan rumah yang tingginya bahkan sudah melewati tinggi badanku. Dan di beberapa bagian pohon kaktus itu, aku mengukir namaku dan Eko, kakak kelas gebetanku.
“Aku memang punya pohon kaktus, Syapril. Tapi kenapa harus sekarang kamu mintanya? 5 menit lagi aku masuk, dan ada ulangan Matematika pula. Lagian, kenapa kamu gak pesan aja sama Ria kemarin, jadi akukan bisa bawakan hari ini?” sungutku tak mau kalah.
“Aku baru ingat kalau ada praktek Biologi di sekolahku pagi ini, Aya. Harusnya kamu menghargai aku yang sudah susah payah jalan kaki dari sekolahku ke sini. Mana pake acara digigit nyamuk pula, “ sanggahnya. Aku memutar mataku. Apa urusannya denganku kalau dia ada praktek Biologi atau tidak di sekolahnya? Salahnya sendiri dong yang lupa. Lagipula, aku tak minta dia jalan kaki dari sekolahnya ke sekolahku, kok. Kan ada angkot. Kenapa jadi berbalik posisinya seakan akulah pihak yang membutuhkan di sini?
“Kamu ini, udah minta, maksa pula. Ya sudah, tunggu di sini, jangan ngerayap kemana-mana. Aku ambilkan,” ujarku sambil bersungut-sungut. Sungguh mati, aku tak ikhlas. Dasar Syapril nyebelin. Terkadang aku ingin teriak saat sifat tidak tegaanku dengan semena-mena dimanfaatkan orang lain.
Akhirnya, aku mengalah dan memutuskan untuk pulang ke rumahku, mengambil kaktus yang dimintanya. Tak sampai tiga menit kemudian, aku sudah kembali ke sekolah sambil menenteng sekresek penuh kaktus. Dan dengan hati masih gondok, kuserahkan kaktus itu padanya, lalu melangkah masuk kelas tanpa basa-basi lagi padanya. Ulangan Matematika jauh lebih penting daripada mendengar apapun yang ingin ia katakan.
Setelah kejadian itu, aku tak lagi bertemu Syapril. Tapi ketika aku sedang Persami di sekolah, dia dan kakaknya, Kak Nanda, datang untuk menyaksikan atraksi kelompok kami. Demi apa pula, ketika itu aku kedapatan peran sebagai kuntilanak dalam drama di kelompok kami? Malunya. Aku sangat berharap dia tak melihat wajahku yang ketika itu begitu cantik dengan polesan arang di mana-mana, hasil kreatifitas teman-teman sekelompokku tentunya. Huhuhu. Tapi syukur beribu syukur, cuaca tak bersahabat. Selepas atraksi, angin kencang bertiup, dan, sukses merubuhkan tenda kami. Alhasil, kami pun tunggang-langgang menyelamatkan diri ke kelas, dan Syapril dan kakaknya pun terlupakan. Lagian, saat itu di kelas, ada Kak Eko yang lebih menarik perhatianku, hahaha…
Aku akhirnya tak lagi melihat Syapril setelah itu. Ria pun berhenti mengirimkan salam-salamnya untukku. Mungkin capek. Tapi, ketika aku kelas 2 SMA, suatu hari Ria marah-marah ketika datang ke rumahku.
“Kamu ini keterlaluan, Aya. Syapril capek-capek datang dari Medan hanya untuk menemuimu, tapi kamu malah sama sekali tak melihatnya!” kecam Ria.
“Kamu ngomong apa sih, Ria? Syapril? Ada hubungan apa aku dengannya?” tanyaku bingung. Jelas saja, aku merasa tak salah apa-apa.
“Kamu tahu gak, Syapril itu awalnya mau mendaftar di sekolah yang sama denganmu, tapi akrena NEM-nya tak cukup, dia masuk ke Harmoni. Cuma, di sana dia malah jadi doyan berantem, makanya Papanya memindahkannya ke Medan. Tapi dia kabur, dan belum nyampe ke rumahnya, dia langsung ke SMA-mu, pengen ketemu kamu. Dia ngelihat kamu di lapangan basket, dan pulang dengan kecewa karena kamu sama sekali tak menoleh ke arahnya. Jahat banget sih!” lagi-lagi Ria mengecamku. Aku sampai terkesiap? Sampai sebegitukah dia menyukaiku? Ta-tapi, aku memang tak melihat siapa pun ketika latihan basket.
“Ria, aku benar-benar tak melihatnya. Kamu tahukan, mataku minus. Aku tak bisa melihat kalau jaraknya sejauh itu. Kalau dia memang niat menemuiku, harusnya dia menghampiriku, kan? Kenapa dia sama sekali tak menegurku?” aku coba membela diri.
Setelah itu, aku betul-betul kehilangan kontak dengan Syapril, lelaki itu. Entahlah, mungkin ia sudah menikah dan memiliki anak lebih dari 1. Hahaha, teringat padanya, malah membuatku senyum-senyum sendiri. Bangga juga sih, ada lelaki yang menyukaiku sampai segitunya *diketok Papih…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar