NB: Gambar diambil dari Google
Aku baru saja selesai mengeringkan rambut dengan handuk hijau
kecil kesayanganku ketika Dayana – salah satu sahabat karibku – meletakkan
segelas teh di atas meja kecil di sudut tempat tidur. Kuanggukkan kepala
sedikit sebagai ganti ucapan terima kasih, lalu menghenyakkan tubuh di sofa
hijau lumut yang telah terlebih dahulu ia tempati.
“Kurasa kau terlalu keras pada Lian,“ Dayana memecah kesunyian
yang tercipta di antara kami. Aku mengerutkan kening, memandangi wajahnya,
menebak kemana arah pembicaraan kami. Sejurus kemudian, kualihkan pandang
keluar jendela, menatap larik-larik hujan yang masih merajam sudut-sudut tanah
yang kerontang. Oktober yang basah, desahku.
“Menurutmu begitu?“ aku balik bertanya pada Dayana. Aku ingat
kejadian tadi pagi ketika aku dengan keras mengatakan bahwa aku benci perempuan
yang lemah pada Lian, sahabatku selain Dayana. Mungkin benar aku bersikap
terlalu keras padanya seperti yang Dayana katakan, tapi Lian benar-benar
membuatku kesal. Tak cukupkah waktu seminggu untuknya guna menanggulangi
kejadian bodoh yang disebutnya patah hati?
“Jangan menyamakan Lian seperti dirimu, Aya. Kau mungkin dengan
gampang mengubur perasaan sakit hatimu setelah perpisahanmu dengan Damar. Tapi
Lian? Kau tahu sendiri gadis seperti apa dirinya,“ aku tergelak mendengar
pembelaan Dayana pada Lian. Justru karena aku pernah mengalaminya maka aku
membenci sikap Lian yang seolah terlalu bergantung pada makhluk bernama Ryan
itu, sungutku.
“Apa menurutmu aku akan dengan mudah mengeluarkan kata-kata yang
kuucapkan tadi pagi kalau tidak berdasarkan pada apa yang telah kualami,
Dayana? Kau memakai kata “mungkin” dalam melihat caraku menyikapi kasusku. Itu
berarti kau sendiri tidak tahu benar apa yang kualami. Kata siapa perpisahanku
dengan Damar tak membuatku menderita? Aku terluka, Dayana. Aku sangat-sangat
terluka, dan berbagai pertanyaan yang dimulai dengan kata mengapa, kenapa,
sebab apa dan sebangsanya itu menggerogoti benakku selama seminggu. Ya,
seminggu. Aku cuma butuh seminggu untuk mencari jawaban, bahwa sesungguhnya
perpisahanku dengan Damar tak berdampak apa-apa bagi hidupku, malah
menguntungkan. Aku tak perlu repot membeli pulsa setiap akan menghubunginya,
aku tak perlu menyediakan waktu untuk menemaninya melihat pameran photografi
yang disukainya, dan banyak hal-hal lain yang tak perlu kulakukan. Hal-hal yang
sesungguhnya bisa kuisi dengan kegiatan lain yang lebih berguna. Jika aku bisa,
kenapa tidak dengan Lian? Apa yang membuatnya berbeda denganku? Bahwa pada dasarnya
ia perempuan rapuh? Kau lupa, di antara kita bertiga akulah yang kalian sebut
makhluk paling rapuh. Bukan begitu, Dayana?“ kuambil nafas panjang, berusaha
mengisi kerongkonganku yang terasa sesak. Dayana menyodorkan gelas teh yang
mulai dingin kepadaku.
“Setidaknya menurutku, kau tak perlu membentaknya seperti itu di
parkiran kampus. Kau masih bisa bicara baik-baik dengannya ketika kita berada
di rumah,“ kuletakkan gelas teh yang tinggal berisi setengah. Kupandangi
dalam-dalam wajah Dayana yang selalu tenang umpama permukaan samudera yang
lengang. Di antara kami bertiga, Dayana memang yang paling mampu menetralisir
sikapku dan Lian yang bertolak belakang. Aku yang blak-blakan dan pemarah,
serta Lian yang kadang bersikap bak puteri Solo itu.
“Kukira untuk bagian itu kau benar. Aku hanya terlalu muak
mendengar kata patah hati, dan ia menyebut kata itu selama seminggu belakangan
ini. Aku masih memakluminya jika dua hari pertama ia mengatakan itu
berulang-ulang. Hey, jangan salahkan sikapku. Aku begini juga karena
pengalaman. Aku sudah menasehatinya untuk melakukan ini itu untuk melupakan
sakitnya perpisahan dengan Ryan, tapi Lian tetap tak mau mendengarkanku. Jadi,
jangan salahkan aku jika pada akhirnya aku harus bersikap “agak” keras
padanya,“ sahutku, membela diri. Dayana akhirnya tertawa. Ditutupnya tirai
jendela ketika hujan yang turun semakin deras, dan hawa dingin mulai memenuhi
kamarku.
“Wajar kalau Lian bersikap begitu. Ryan itu pacar pertamanya.
Kau harus tetap minta maaf padanya ketika ia pulang nanti, Aya.”
“Oke, oke. Apa sih yang tidak akan kulakukan untukmu, heh?“
candaku. Dayana menimpukku dengan bantal. Aku balas menimpuknya hingga akhirnya
kami larut dengan perang-perangan bantal berdua.
“Bagaimana keadaan Damar sekarang?“ tanya Dayana ketika kami
mengakhiri permainan kekanak-kanakan itu.
“Entahlah. Aku tak ingin tahu, dan tak mau tahu. Awalnya kupikir
aku masih bisa bersahabat dengannya, tapi dia tak menyambut baik niatku. Ya
sudah, aku tak peduli. Kata teman-temannya dia mau menikah tahun depan, hohoho,
siapakah wanita malang yang akhirnya termakan rayuan gombal lelaki kembaran
buaya darat itu selain aku dan tiga mantannya yang lain itu?“ aku bertanya
dengan raut wajah seolah sedang bermain teater. Dayana kembali tergelak.
Sejurus kemudian ia berdiri, dan melangkah keluar dari kamarku.
“Biar bagaimanapun, kau pernah mencintainya, Aya. Hahahaha, aku
jadi ingin kembali merasakan indahnya jatuh cinta,“ Dayana perlahan menutup
pintu kamarku. Aku tersenyum sendiri mendengar ucapan terakhirnya. Dasar
Dayana.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar