NB: Gambar diambil dari Google
Aku sedang asyik mencoret-coret kertas di atas meja kerjaku sembari membiarkan Adele menyemburkan api ke dua belah gendang telingaku ketika ke-empat makhluk yang kulabeli embel-embel sebagai rekan sejawat itu mengerubungiku dengan semangat empat puluh lima. Dayana, Amelia, Riana dan Rei. Tanpa dikomando, ke-empat makhluk manis itu duduk di tempat duduk mereka masing-masing yang entah disengaja atau tidak, didekorasi dengan bentuk mengelilingi mejaku. Spontan, kuhentikan keasyikanku menyusun plot untuk naskah cerita yang akan kuperlombakan, lalu bergantian merayapi wajah-wajah mereka yang balas menatapku dengan ekspresi beragam.
“Ada apa?” tanyaku, datar. Kukecilkan volume Adele yang masih
melantun indah.
“Ah, Ay, muka udah datar, tak perlulah ikut-ikut kau tambahin
dengan nadamu yang makin menambah kadar kedataran wajahmu itu,” sahut Rei yang
sukses membuatku melempar kepalanya dengan pelobang kertas. Namun, dengan
gerakan refleks, ia berhasil menghindari lemparanku hingga akhirnya pembolong
kertas itu sukses mendarat pada tembok mulus bercat biru yang berdiri angker di
belakangnya. – Oh, tidak. Lupakan, tidak ada kejadian seperti itu. Pelobang
kertas celaka itu sedang tak bersahabat denganku ketika aku membutuhkannya
karena terakhir kulihat ia malah nangkring dengan indahnya di sudut meja Riana.
“Jika kau masih ingin merasakan bagaimana bibir jontormu itu
diperawani, sebaiknya kau menjaganya baik-baik, Rei. Kau tahu, urat marahku
saat ini sudah sedemikian pendek,” balasku murka. Dayana, Amelia dan Riana
terbahak berbarengan. Namun tawa mereka menghilang ketika aku menatap mereka
dengan pandangan tajam.
“Tuh, kan, Rei. Apa kubilang? Lagian, mulutmu itu apa tak pernah
makan bangku sekolahan?” cerca Riana, sok membelaku.
“Halah. Kau kira aku kambing? Kambing aja tak doyan makan
bangku, apalagi aku yang kembarannya Leonardo di Caprio ini,” jawab Rei yang
membuatku ingin menokok kepalanya.
“Leo katamu? Jiah, punya wajah dengan gigi gak pernah kompak ama
bibir aja kau banggain. Nih, ngaca dulu,” Amelia ikut nimbrung dengan
menyerahkan potongan keramik yang entah didapatnya dari mana pada Rei. Dengan
bersungut, Rei menampik potongan keramik yang diayun-ayunkan Amelia tepat di
depan batang hidungnya.
“Haha, kau benar-benar korban iklan, Mel. Aku mengerti maksudmu.
Kau ingin meniru iklan yang mengatakan bahwa Rei bisa ngaca di lantai, kan?”
sambung Dayana, ditingkahi derai tawanya. Rei semakin manyun.
“Ehem!”
Aku pura-pura terbatuk untuk mendapatkan perhatian ke-sepuluh
pasang mata di sekelilingku itu. Hei, biar kata aku paling benci dengan mata
pelajaran yang berhubungan dengan angka-angka, aku sedang tidak salah meramu
kata ketika aku menulis ke-sepuluh pasang mata. Tahu sebabnya? Itu karena
Dayana berkacamata, sehingga otomatis matanya dihitung ada empat. Plaaakkk.
Entah bagaimana, pipiku sudah memanas karena sapaan jemari lembut Dayana.
“Hemmm, bisakah kalian hentikan pembicaraan kalian yang tidak
ada pentingnya sama sekali itu dan membantuku dengan hal-hal yang jauh lebih
penting?” tanyaku dengan wajah tanpa dosa. Namun tak dinyana, ke-empat rekan
sekantor dan seruangan itu kompak terdiam.
“Misalnya?” tanya Amelia dengan kerut di dahi yang menyerupai
jemuran.
“Misalnya, kalian cerita padaku mengenai kisah patah hati kalian
yang paling mengharu biru. Aku mau ikutan lomba menulis dongeng patah hati,
tauk? Kalau aku menang, hadiahnya kan bisa kita pake buat karaokean dan
makan-makan bareng,” jawabku, makin tanpa dosa.
“Hah? Patah hati? Duh, sorry banget, Ay, aku ini playgirl,
otomatis yang ada cowok-cowok yang kubuat patah hatinya, bukan sebaliknya,”
sahut Amelia yang langsung memundurkan kursi putarnya dan kembali menatap layar
komputernya. Tapi sebelum itu ia sempat-sempatnya berbagi toss denganku.
“Aku kurang lebihnya sama dengan Amel, Ay. Lagian, kau tahu
sendiri pacarku tak banyak, udah gitu dapatnya bangsat pula,” Duh, tumben
Dayana menggunakan kata terlarang itu.
“Kau, Riana?” tanyaku.
“Patah hati? Bilang gak yaaa? Udah lupa tuh, Ay,” sahut Riana
yang kali ini dibalas dengan sambitan clurit oleh Amelia.
“Sebelum kau tanya, aku akan bilang kalau aku belum
berpengalaman sama sekali dalam hal patah-mematahkan hati, Ay. Pacaran aja
belom pernah,” Rei buru-buru bicara sebelum aku sempat membuka mulut.
“Yeee, ge-er betul. Sapa juga yang mau nanya dirimu,” godaku,
setelah berhasil meredam emosi yang mendadak naik mendengar ucapannya.
Aku akhirnya kembali dengan keasyikanku, mencoret-coret kertas
setelah tak berhasil menemukan satupun cerita patah hati dari rekan-rekanku
yang sungguh tak bisa diharapkan itu. Dengan sudut mata aku melirik Rei yang
masih berdiri di samping mejaku. Eeh, kapan tuh anak berdirinya?
“Apa lagi?” tanyaku ketus.
“Anu, Ay…,”
“Anunya siapa? Aaaah, aku tidak ada urusan dengan anu siapa pun,
Rei!”
“I-itu…. Izam…,” sambungnya, terbata. Kuhempaskan penaku dengan
kesal, lalu berdiri, berhadapan dengan Rei yang jelas lebih tinggi dariku.
“Ada apa lagi dengan Izam? Udah, ah, aku capek. Bosan dengerin
curhatanmu tentang dia. Kau tahu, mulutku atas bawah rasanya hampir berbusa,
berbuih-buih memberimu saran dan nasehat. Tapi apa? Tak ada satu pun yang kau
praktekkan. Jadi, jangan lagi kau berani-beraninya mengambil waktuku hanya
supaya aku mendengarkan curhatan tak pentingmu itu!” semburku kalap. Rei
melengak. Dayana, Amelia dan Riana menanggalkan headset masing-masing dari
kepala dan memandangi kami berdua dengan wajah mengandung tanya. Paras Rei
memerah. Demi Medusa, jangan sampai dia menangis di depanku.
“Harusnya kau dengar dulu ucapanku. Aku hanya ingin bilang kalau
malam ini Izam mengajak kau, aku, Riana, Amel, dan Dayana makan di GePe,” jawab
Rei. Hah? Apa katanya?
“K-kalian…?” Rei mengangguk. Sebuah senyum malu-malu memalukan
tersungging dari bibirnya.
“Huaaa, selamaaattt, Reiii!” entah siapa yang memulai, tubuh
jangkung Rei sudah menjadi karung tinju untuk kami berempat. Eh, maksudku, ia
menjadi korban pelukan gratis dari kami berempat karena berita gembira yang
dibawanya itu.
“Bilang kek dari tadi. Tau gitu, aku kan gak perlu marah-marah,”
ujarku sambil mengacak-acak rambut Rei. Sosok pria agak lumayan tampan kalau
dilihat dari Monas pakai pipa itu hanya tersenyum. Kiranya senyumannya manis,
padahal sih rasanya gado-gado.
“Huh, Ay, kau kan memang paling mudah dibungkam kalau sudah
ngomong soal makanan,” sindirnya, yang kali ini tak mampu lagi mengelak ketika
jari lentikku menjewer kupingnya.
“Sepertinya aku harus menatar bibirmu, Rei. Dan kali ini, kau
tak akan selamat dari Bu Guru Aya, hohoho,” aku tertawa nista, dengan backsound
kekehan Dayana, Amel dan Riana. Sementara Rei meringis-ringis memegangi ujung
telinganya yang memerah. Hahaha.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar