Jumat, 10 Oktober 2014

Aku, Dayana, Amelia, Riana dan Rei pada Suatu Sore

NB: Gambar diambil dari Google



Aku sedang asyik mencoret-coret kertas di atas meja kerjaku sembari membiarkan Adele menyemburkan api ke dua belah gendang telingaku ketika ke-empat makhluk yang kulabeli embel-embel sebagai rekan sejawat itu mengerubungiku dengan semangat empat puluh lima. Dayana, Amelia, Riana dan Rei. Tanpa dikomando, ke-empat makhluk manis itu duduk di tempat duduk mereka masing-masing yang entah disengaja atau tidak, didekorasi dengan bentuk mengelilingi mejaku. Spontan, kuhentikan keasyikanku menyusun plot untuk naskah cerita yang akan kuperlombakan, lalu bergantian merayapi wajah-wajah mereka yang balas menatapku dengan ekspresi beragam.

“Ada apa?” tanyaku, datar. Kukecilkan volume Adele yang masih melantun indah.

“Ah, Ay, muka udah datar, tak perlulah ikut-ikut kau tambahin dengan nadamu yang makin menambah kadar kedataran wajahmu itu,” sahut Rei yang sukses membuatku melempar kepalanya dengan pelobang kertas. Namun, dengan gerakan refleks, ia berhasil menghindari lemparanku hingga akhirnya pembolong kertas itu sukses mendarat pada tembok mulus bercat biru yang berdiri angker di belakangnya. – Oh, tidak. Lupakan, tidak ada kejadian seperti itu. Pelobang kertas celaka itu sedang tak bersahabat denganku ketika aku membutuhkannya karena terakhir kulihat ia malah nangkring dengan indahnya di sudut meja Riana.

“Jika kau masih ingin merasakan bagaimana bibir jontormu itu diperawani, sebaiknya kau menjaganya baik-baik, Rei. Kau tahu, urat marahku saat ini sudah sedemikian pendek,” balasku murka. Dayana, Amelia dan Riana terbahak berbarengan. Namun tawa mereka menghilang ketika aku menatap mereka dengan pandangan tajam.

“Tuh, kan, Rei. Apa kubilang? Lagian, mulutmu itu apa tak pernah makan bangku sekolahan?” cerca Riana, sok membelaku.

“Halah. Kau kira aku kambing? Kambing aja tak doyan makan bangku, apalagi aku yang kembarannya Leonardo di Caprio ini,” jawab Rei yang membuatku ingin menokok kepalanya.

“Leo katamu? Jiah, punya wajah dengan gigi gak pernah kompak ama bibir aja kau banggain. Nih, ngaca dulu,” Amelia ikut nimbrung dengan menyerahkan potongan keramik yang entah didapatnya dari mana pada Rei. Dengan bersungut, Rei menampik potongan keramik yang diayun-ayunkan Amelia tepat di depan batang hidungnya.

“Haha, kau benar-benar korban iklan, Mel. Aku mengerti maksudmu. Kau ingin meniru iklan yang mengatakan bahwa Rei bisa ngaca di lantai, kan?” sambung Dayana, ditingkahi derai tawanya. Rei semakin manyun.

“Ehem!”

Aku pura-pura terbatuk untuk mendapatkan perhatian ke-sepuluh pasang mata di sekelilingku itu. Hei, biar kata aku paling benci dengan mata pelajaran yang berhubungan dengan angka-angka, aku sedang tidak salah meramu kata ketika aku menulis ke-sepuluh pasang mata. Tahu sebabnya? Itu karena Dayana berkacamata, sehingga otomatis matanya dihitung ada empat. Plaaakkk. Entah bagaimana, pipiku sudah memanas karena sapaan jemari lembut Dayana.

“Hemmm, bisakah kalian hentikan pembicaraan kalian yang tidak ada pentingnya sama sekali itu dan membantuku dengan hal-hal yang jauh lebih penting?” tanyaku dengan wajah tanpa dosa. Namun tak dinyana, ke-empat rekan sekantor dan seruangan itu kompak terdiam.

“Misalnya?” tanya Amelia dengan kerut di dahi yang menyerupai jemuran.

“Misalnya, kalian cerita padaku mengenai kisah patah hati kalian yang paling mengharu biru. Aku mau ikutan lomba menulis dongeng patah hati, tauk? Kalau aku menang, hadiahnya kan bisa kita pake buat karaokean  dan makan-makan bareng,” jawabku, makin tanpa dosa.

“Hah? Patah hati? Duh, sorry banget, Ay, aku ini playgirl, otomatis yang ada cowok-cowok yang kubuat patah hatinya, bukan sebaliknya,” sahut Amelia yang langsung memundurkan kursi putarnya dan kembali menatap layar komputernya. Tapi sebelum itu ia sempat-sempatnya berbagi toss denganku.

“Aku kurang lebihnya sama dengan Amel, Ay. Lagian, kau tahu sendiri pacarku tak banyak, udah gitu dapatnya bangsat pula,” Duh, tumben Dayana menggunakan kata terlarang itu.

“Kau, Riana?” tanyaku.

“Patah hati? Bilang gak yaaa? Udah lupa tuh, Ay,” sahut Riana yang kali ini dibalas dengan sambitan clurit oleh Amelia.

“Sebelum kau tanya, aku akan bilang kalau aku belum berpengalaman sama sekali dalam hal patah-mematahkan hati, Ay. Pacaran aja belom pernah,” Rei buru-buru bicara sebelum aku sempat membuka mulut.

“Yeee, ge-er betul. Sapa juga yang mau nanya dirimu,” godaku, setelah berhasil meredam emosi yang mendadak naik mendengar ucapannya.

Aku akhirnya kembali dengan keasyikanku, mencoret-coret kertas setelah tak berhasil menemukan satupun cerita patah hati dari rekan-rekanku yang sungguh tak bisa diharapkan itu. Dengan sudut mata aku melirik Rei yang masih berdiri di samping mejaku. Eeh, kapan tuh anak berdirinya?

“Apa lagi?” tanyaku ketus.

“Anu, Ay…,”

“Anunya siapa? Aaaah, aku tidak ada urusan dengan anu siapa pun, Rei!”

“I-itu…. Izam…,” sambungnya, terbata. Kuhempaskan penaku dengan kesal, lalu berdiri, berhadapan dengan Rei yang jelas lebih tinggi dariku.

“Ada apa lagi dengan Izam? Udah, ah, aku capek. Bosan dengerin curhatanmu tentang dia. Kau tahu, mulutku atas bawah rasanya hampir berbusa, berbuih-buih memberimu saran dan nasehat. Tapi apa? Tak ada satu pun yang kau praktekkan. Jadi, jangan lagi kau berani-beraninya mengambil waktuku hanya supaya aku mendengarkan curhatan tak pentingmu itu!” semburku kalap. Rei melengak. Dayana, Amelia dan Riana menanggalkan headset masing-masing dari kepala dan memandangi kami berdua dengan wajah mengandung tanya. Paras Rei memerah. Demi Medusa, jangan sampai dia menangis di depanku.

“Harusnya kau dengar dulu ucapanku. Aku hanya ingin bilang kalau malam ini Izam mengajak kau, aku, Riana, Amel, dan Dayana makan di GePe,” jawab Rei. Hah? Apa katanya?

“K-kalian…?” Rei mengangguk. Sebuah senyum malu-malu memalukan tersungging dari bibirnya.

“Huaaa, selamaaattt, Reiii!” entah siapa yang memulai, tubuh jangkung Rei sudah menjadi karung tinju untuk kami berempat. Eh, maksudku, ia menjadi korban pelukan gratis dari kami berempat karena berita gembira yang dibawanya itu.

“Bilang kek dari tadi. Tau gitu, aku kan gak perlu marah-marah,” ujarku sambil mengacak-acak rambut Rei. Sosok pria agak lumayan tampan kalau dilihat dari Monas pakai pipa itu hanya tersenyum. Kiranya senyumannya manis, padahal sih rasanya gado-gado.

“Huh, Ay, kau kan memang paling mudah dibungkam kalau sudah ngomong soal makanan,” sindirnya, yang kali ini tak mampu lagi mengelak ketika jari lentikku menjewer kupingnya.

“Sepertinya aku harus menatar bibirmu, Rei. Dan kali ini, kau tak akan selamat dari Bu Guru Aya, hohoho,” aku tertawa nista, dengan backsound kekehan Dayana, Amel dan Riana. Sementara Rei meringis-ringis memegangi ujung telinganya yang memerah. Hahaha.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar