NB: Gambar diambil dari Google
Maaf, aku terlambat. Aku baru membaca pesan singkat darimu. Ada pekerjaan tambahan yang harus kulakukan, hingga tak bisa pulang ke rumah kita pada waktu yang telah kita sepakati sebelumnya. Lagi-lagi aku minta maaf.
Pekerjaanku baru berakhir 5 menit yang lalu. Aku
langsung berlari kecil menuju halte. Tapi kenyataannya aku ketinggalan bis,
hingga terpaksa harus menunggu bis berikutnya lewat. Tak apalah, menunggu 30
menit lagi. Walau akan sangat terlambat, aku tetap akan pulang. Aku merindukan
suasana rumah kita.
Bis akhirnya muncul. Aku berdesakan naik
dengan calon penumpang yang lain. Tubuh kecilku bagaikan sehelai daun kering
yang dipermainkan angin. Tapi aku tetap tersenyum menanggapinya. Kerinduanku padamu
dan rumah kita mampu meredam emosiku.
Akhirnya aku sampai pada tempat
pemberhentian. Berjalan perlahan menyusuri jalan setapak menuju rumah kita. Kau
mungkin sudah tertidur di teras belakang menunggu kepulanganku. Lain kali, kita
duplikat satu lagi kunci, lalu kita simpan di dekat pot suplir samping tangga. Agar
kalau salah satu dari kita ketinggalan kuncinya, kita tak perlu repot seperti
ini. Iya, kan?
Ah, ladang ilalang memanja mataku setiap kali
aku melewatinya. Memutar jalan menuju teras belakang. Kau mungkin satu-satunya
orang yang tak menganggap aneh kebiasaanku mengagumi ilalang. Malah kau hanya
tersenyum ketika aku menjadikan lahan sisa di samping rumah kita ini sebagai
ladang ilalangku. Adakah perempuan waras yang memilih menanam ilalang yag
selalu dianggap tanaman pengganggu? Mungkin hanya aku, separuhmu.
Tapi aku puas ketika akhirnya kau mengakui
keindahan ladang ilalangku. Terlebih ketika akhirnya banyak burung kecil yang
singgah di batang-batangnya. Bahkan kupu-kupu dan capung kadang juga suka
terbang rendah di antara helaiannya. Kau bahkan sempat terpana ketika menyaksikan
butiran-butiran hujan memahkotai ladang ilalangku. Hahaha, kegilaan yang tak
sia-sia, bukan?
Eh, benarkan dugaanku? Kau tertidur di kursi
kayu. Gurat lelah tersirat di wajahmu. Aku tak tega untuk membangunkanmu. Lebih
baik kubiarkan saja kau tertidur sebentar lagi. Aku akan mengambil selimut,
agar terpaan angin tak membuat tubuhmu menggigil.
Perlahan aku mengeluarkan kunci dari tasku,
dan memasukkannya ke lubang kunci. Sepelan mungkin kuputar gagang pintu, agar
deritnya tak mengganggu tidurmu. Kubuatkan teh hangat dulu ya, sebagai teman
kue kering yang kubuat kemarin.
Istirahatlah. Karena di sini, di rumah kita
ini, adalah satu-satunya pilihan kita untuk kembali. Melebur lelah, menyamarkan
airmata, berbagi kisah. Hanya kau dan aku. Kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar