Rabu, 12 Juni 2013

Maaf, Aku Terlambat



NB: Gambar diambil dari Google


Maaf, aku terlambat. Aku baru membaca pesan singkat darimu. Ada pekerjaan tambahan yang harus kulakukan, hingga tak bisa pulang ke rumah kita pada waktu yang telah kita sepakati sebelumnya. Lagi-lagi aku minta maaf.

Pekerjaanku baru berakhir 5 menit yang lalu. Aku langsung berlari kecil menuju halte. Tapi kenyataannya aku ketinggalan bis, hingga terpaksa harus menunggu bis berikutnya lewat. Tak apalah, menunggu 30 menit lagi. Walau akan sangat terlambat, aku tetap akan pulang. Aku merindukan suasana rumah kita.
 
Bis akhirnya muncul. Aku berdesakan naik dengan calon penumpang yang lain. Tubuh kecilku bagaikan sehelai daun kering yang dipermainkan angin. Tapi aku tetap tersenyum menanggapinya. Kerinduanku padamu dan rumah kita mampu meredam emosiku.

Akhirnya aku sampai pada tempat pemberhentian. Berjalan perlahan menyusuri jalan setapak menuju rumah kita. Kau mungkin sudah tertidur di teras belakang menunggu kepulanganku. Lain kali, kita duplikat satu lagi kunci, lalu kita simpan di dekat pot suplir samping tangga. Agar kalau salah satu dari kita ketinggalan kuncinya, kita tak perlu repot seperti ini. Iya, kan?

Ah, ladang ilalang memanja mataku setiap kali aku melewatinya. Memutar jalan menuju teras belakang. Kau mungkin satu-satunya orang yang tak menganggap aneh kebiasaanku mengagumi ilalang. Malah kau hanya tersenyum ketika aku menjadikan lahan sisa di samping rumah kita ini sebagai ladang ilalangku. Adakah perempuan waras yang memilih menanam ilalang yag selalu dianggap tanaman pengganggu? Mungkin hanya aku, separuhmu.

Tapi aku puas ketika akhirnya kau mengakui keindahan ladang ilalangku. Terlebih ketika akhirnya banyak burung kecil yang singgah di batang-batangnya. Bahkan kupu-kupu dan capung kadang juga suka terbang rendah di antara helaiannya. Kau bahkan sempat terpana ketika menyaksikan butiran-butiran hujan memahkotai ladang ilalangku. Hahaha, kegilaan yang tak sia-sia, bukan?

Eh, benarkan dugaanku? Kau tertidur di kursi kayu. Gurat lelah tersirat di wajahmu. Aku tak tega untuk membangunkanmu. Lebih baik kubiarkan saja kau tertidur sebentar lagi. Aku akan mengambil selimut, agar terpaan angin tak membuat tubuhmu menggigil.

Perlahan aku mengeluarkan kunci dari tasku, dan memasukkannya ke lubang kunci. Sepelan mungkin kuputar gagang pintu, agar deritnya tak mengganggu tidurmu. Kubuatkan teh hangat dulu ya, sebagai teman kue kering yang kubuat kemarin.

Istirahatlah. Karena di sini, di rumah kita ini, adalah satu-satunya pilihan kita untuk kembali. Melebur lelah, menyamarkan airmata, berbagi kisah. Hanya kau dan aku. Kita. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar